Skip to main content

“Andai aku bisa mengulang waktu. Aku ingin kembali ke masa itu dan perbaiki semua kesalahanku..” ucapku lirih pada cakrawala dan lautan lepas..namun seakan suaraku hilang ditelan gemuruh ombak yang menghempas bebatuan karang.

Ya, aku tahu itu ide yang bodoh. Hidup bukanlah panel-panel komik yang bisa diubah semaunya. Hidup juga bukan naskah skenario di kompu, tinggal klik “undo” untuk kembali dan tinggal diperbaiki sesukanya. “Hidup seperti halnya jejak kaki yang tertinggal selamanya di hamparan pasir putih..” batinku sembari menatap jejak langkah kecilku yang disapu ombak.

Aku pun merebahkan diri dan menunggu senja datang berlabuh, memperhatikan kawanan burung camar yang sesekali terbang rendah, “Coba aku punya sepasang sayap seperti burung-burung itu, aku bisa terbang tinggi nan jauh..lari dari persoalan yang kini dihadapi..” pikirku

Namun sejenak aku merenung, pernah baca dalam sebuah artikel, seekor camar dapat terbang bermigrasi pada musm dingin hingga puluhan ribu mil jauhnya, mencari perairan yang hangat dan berlimpah ikan.. Namun sejauh apapun ia melintasi langit biru, suatu saat pasti akan kembali ke tempat asalnya..

Kemana aku dapat pergi menjauhi Roh Mu, kemana aku dapat lari dari hadapan Mu?
Jika aku terbang dengan sayap fajar dan membuat kediaman di ujung laut, juga disana tangan Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan Mu memegang aku.. (Maz 139:7, 9-10)

 

Mungkin saat ini aku berpikir untuk pergi menghindar, tapi toh ga selamanya aku bisa lari. Seperti gulungan ombak yang akhirnya menepi ke pantai setelah mengarungi samudra maha luas, aku pun harus kembali menghadapi pergumulanku. Yesus sendiri sebelum penyaliban berdoa, mengutus kita untuk menghadapi dunia, bukan lari (Yoh 17).

Seandainya Tuhan juga memberikan ksempatan untuk ku ulangi hidupku, belum tentu aku bisa hidup lebih baik. Mungkin aku akan membuat kesalahan lagi dan pasti ada persoalan lain yang mendera. Tapi aku percaya Tuhan pasti sanggup menolongku..

Sejenak aku terdiam terpaku, lalu memutuskan membuang anganku untuk lari dan mengulang hidupku. Aku harus kuat, hadapi kenyataan dan tiap kesalahan yang telah kubuat.. Yup! dan rasanya kini hatiku lebih tenang, setenang semburat jingga di langit yang kian meredup.

“Anak Ku..masih melamun aja.. Hari udah semakin gelap..pulang gih sono..” sapa hangat Yesus sembari duduk di sampingku.

“Ah Tuhan..bikin kaget..” seruku dengan nada protes. Kemunculan Nya emang selalu tiba-tiba.

“Oya..masih ingin mengulang hidupmu?” tanya Yesus.

“Tidak, Tuhan.. karena akan sama saja.. Aku pasti akan kembali pada Mu. Sekalipun Engkau memberikanku ribuan kesempatan untuk dilahirkan kembali.. pada akhirnya cintaku akan bermuara pada Mu..” bisikku sambil menatap dimata Yesus.

Kami tertawa lepas, derai tawanya ikut berkejaran dengan alunan ombak.

“Hidup ini memang ga sama dengan panel-panel komik yang bisa dengan mudahnya dihapus, tapi bersama Ku, kita bisa membuat ending yang paling indah..” bisik Yesus sambil meraih tanganku..

Kami pun berjalan pulang menyusuri tepian pantai, kini telah ada dua pasang jejak kaki, ketika Yesus berjalan bersamaku. Senja kian tersaput oleh malam, sementara debur ombak tak jua reda, buihnya juga tak kunjung surut..

 

Topik